Rubrik Psikolog
“Menciptakan Harapan Melalui Tindakan”
Artikel by: Swarinda Tyaskyesti, M.Psi., Psikolog
Bulan September merupakan bulan pencegahan bunuh diri sedunia, tepatnya tanggal 10 September. Menurut data dari polri, sejumlah 577 kasus bunuh diri ditemukan sepanjang bulan januari-mei 2025.
Pada masyarakat tertentu, bunuh diri berkaitan dengan budaya dan mitos zaman dahulu. Di Jepang misalnya, ada seppuku/harakiri yaitu tindakan bunuh diri karena rasa malu setelah melakukan kesalahan. Di Gunungkidul, Yogyakarta pun ada mitos Pulung Gantung, di mana jika ada bola api berpijar merah dan berekor jatuh dari langit, maka dipercaya ada warga yang gantung diri.
Dalam perkembangannya, peristiwa bunuh diri lebih erat berkaitan dengan permasalahan kesehatan mental, dibandingkan mitos atau tradisi. Secara umum, tidak ada orang yang benar-benar menginginkan hidupnya berakhir. Faktor yang paling beresiko terhadap perilaku bunuh diri, termasuk ide bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan tindakan bunuh diri adalah ketidakberdayaan (Brezo, dkk,2005). Mereka yang menjatuhkan pilihan pada bunuh diri adalah mereka yang merasa tidak ada solusi lain dari permasalahannya sehingga menganggap bunuh diri merupakan jalan satu-satunya.
Demikian halnya dengan yang terjadi di Jepang dan Gunung Kidul.Budaya sepupuku pada masa lampau melahirkan masyarakat Jepang yang sangat peka terhadap harga diri tinggi. Penanaman budaya bahwa harga diri sangat dijunjung tinggi tetap berlangsung hingga saat ini. Segala permasalahan yang membuat harga dirinya tercoreng memunculkan perasaan stress atau bahkan depresi. Perasaan depresi inilah yang akhirnya dapat memunculkan ide untuk mengakhiri hidup jika tidak segera mendapatkan pertolongan mental.
Pada masyarakat Gunungkidul, mitos Pulung Gantung yang pada masa lampau dipercaya sebagai tanda bencana, pada perkembangannya sekarang banyak yang salah memaknai kata “Pulung”. Secara filosofi jawa, “ketiban pulung” berarti mendapatkan rezeki atau kebahagiaan. Sehingga pada perjalanannya, banyak orang yang menganggap bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar dari masalah ataupun sebagai jalan pintas supaya mendapatkan kebahagiaan. Nyatanya, bunuh diri tidak memunculkan rasa bahagia. Bunuh diri justru menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi orang-orang yang ditinggalkannya.
Tema Hari Pencegahan Bunuh Diri tahun ini adalah “Menciptakan harapan melalui tindakan”. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencegah tindakan bunuh diri, tindakan-tindakan kecil dalam bentuk dukungan sosial pun dapat dilakukan siapapun di lingkungan sekitar korban. Kehadiran dan dukungan kecil tersebut memberi harapan bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan menemaninya melewati masa-masa sulit tersebut.
Dukungan sosial tersebut tidak harus dalam bentuk solusi atas permasalahan yang sedang dialami. Ide bunuh diri tidak mungkin muncul secara tiba-tiba. Ide tersebut muncul ketika orang merasa sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah namun tak jua menemukan hasil hingga akhirnya merasa tidak berdaya. Nah peran kita sebagai teman, cukup dengan menjadi teman di kala dia membutuhkan, dan siap menyediakan telinga jika teman tersebut butuh untuk berkeluh kesah ketika sedang terhimpit masalah. Orang yang sedang merasa tidak berdaya, butuh merasa diterima, sehingga kehadiran seorang teman sudah cukup membuatnya merasa diterima dan
disayangi. Perasaan tersebutlah yang membuatnya bisa bangkit dan melihat berbagai alternatif solusi lain selain bunuh diri. Jika gejala psikologis dirasa meningkat, rekomendasikan untuk menghubungi psikolog supaya mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Pustaka:
Brezo, J., Paris, J., & Turecki, G. (2006). Personality traits as correlates of suicidal ideation, suicide attempts, and suicide completions: A systematic review. Acta Psychiatrica Scandinavica, 113, 180-206.
